Musi Rawas, Kabarindonesia.co
Warga Desa Karya Sakti, Karya Mukti, Bliti Jaya, dan beberapa desa lain di kawasan Trans Kelingi 2 tengah mengalami krisis air bersih. Krisis ini mencakup kesulitan memperoleh air bersih untuk minum dan mandi. Kepala Unit Instalasi Komunal Kecil (IKK) Karya Sakti, Cek Ali, menjelaskan bahwa aliran air terhenti akibat lemahnya arus listrik di Desa Mambang yang menggerakkan mesin pompa air dari Sungai Musi. “Mesin pompa hanya bisa dioperasikan pada malam hari. Air hanya bisa dialirkan ke SP 1, sementara SP 2, SP 3, dan SP 4 tidak terlayani,” ujar Cek Ali melalui sambungan telepon.
Menanggapi situasi ini, Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, Indria Febriansyah, menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas kondisi kekeringan yang melanda warga Trans Kelingi 2. “Seperti kita ketahui, desa-desa di Kecamatan Muara Kelingi ini dikelilingi oleh dua perusahaan agribisnis besar, yaitu PT PP London Sumatra Indonesia (Lonsum) dan PT Djuanda Sawit Lestari. Kebun kelapa sawit mereka membentang mengelilingi Desa Tugu Sempurna, Marga Sakti, Karya Sakti, Petran Jaya, Karya Mukti, dan Bliti Jaya,” ungkap Indria.
Indria juga menyoroti minimnya kontribusi Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan besar tersebut terhadap masyarakat sekitar. “Hanya Desa Marga Sakti dan Karya Sakti yang sudah dialiri PDAM, sementara desa lainnya belum. Sangat disayangkan jika CSR dari perusahaan besar tersebut tidak sampai kepada masyarakat sekitar, sedangkan pemerintah daerah Kabupaten Musi Rawas seolah menutup mata terhadap kekeringan yang terjadi di wilayah Trans Kelingi 2 ini,” ujarnya.
Indria berharap perusahaan-perusahaan besar tersebut serta pemerintah daerah setempat segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi krisis air ini, sehingga masyarakat tidak terus-menerus mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
(Aris)






