Oleh Agustam Rachman, Pengamat Sosial, menetap di Yogyakarta
Di beberapa tempat di Jawa tradisi menyalakan mercon saat lebaran dari tahun ke tahun makin meluas. Tidak hanya anak kecil tapi juga orang dewasa ikut melakukannya.
Dulu zaman saya kecil harga mercon sangat mahal untuk ukuran uang jajan saya saat itu. Makanya dulu saya dan teman-teman lebih memilih membuat meriam bambu yang biayanya lebih murah dan bisa dipakai berkali-kali.
Tulisan ini tidak pada posisi menyalahkan para ‘penghobi mercon’ toh saya sendiri pernah ikut menjadi ‘pelaku’ saat masih kecil. Walaupun saya tahu sampai sekarang sekitar 90 persen orang tua jengkel karena suara mercon itu mengagetkan dan membuat jantung mau copot.
Seiring perkembangan waktu pembuatan mercon makin canggih. Bahkan sekarang mercon dibuat sendiri dan ukurannya hampir sebesar galon air. Tentu makin besar ukurannya, ledakannya makin dahsyat.
Beberapa kejadian meledaknya ‘pabrik mercon rumahan’ menelan korban baik harta maupun nyawa misalnya di Kediri Jawa Timur (12/05/2021) yang menyebab seorang tewas dengan tubuh terbelah dua. Demikian juga ledakan di desa Wijirejo, Pandak Bantul DIY (10/03/2024) yang menyebabkan 4 orang jadi korban.
Tapi anehnya walaupun trend musibah meledaknya pabrik mercon rumah dari tahun ke tahun makin meningkat, polisi seolah tak berdaya untuk memberantasnya.
Padahal selain perangkat desa dan tokoh masyarakat, sebenarnya Polri sesuai UU yang bertugas menjaga Kamtibmas paling bertanggung jawab atas maraknya pabrik mercon ilegal tersebut.
Atau perlu juga diberi-tahu kepada orang-orang yang “masa kecil kurang bahagia” atau yang saat ini sudah dewasa tapi masih giat terjun dalam dunia ‘permerconan’ mengapa tidak menggunakan toa pengeras suara saja dengan menghubungkannya ke perangkat HP untuk mengambil suara ledakan mercon dari media semisal youtube.
Toh selain biayanya murah dan tidak berbahaya, suara ledakan yang dikeluarkannya akan lebih besar sesuai pengaturan volume.






