Oleh: Junaidi Jamsari
Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung
Setelah sembilan hari menjalani ibadah puasa, apakah aktivitas Ramadan yang kita lakukan masih sama seperti sebelumnya? Apakah keimanan kita, ketakwaan kita kepada-Nya, serta kerinduan kita akan ridha-Nya semakin meningkat? Ataukah Ramadan hanya berlalu begitu saja, seperti jejak kaki di padang pasir yang hilang tersapu angin?
Bagi sebagian orang, Ramadan seolah hanya menjadi masa jeda dari kemaksiatan. Saat Ramadan, banyak yang bersemangat membersihkan harta dengan berzakat, berinfak, dan bersedekah. Namun, setelah Ramadan berlalu, praktik riba, korupsi, penipuan, dan transaksi haram kembali marak dilakukan.
Padahal, di antara semua bentuk ibadah, puasa adalah satu-satunya ibadah yang Allah sendiri yang akan membalasnya. Puasa memiliki tujuan utama, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: la’allakum tattaqun (agar kamu bertakwa), la’allakum tasykurun (agar kamu bersyukur), dan la’allakum yarsyudun (agar kamu mendapatkan petunjuk). Dalam tafsir.






