Oleh: Junaidi Jamsari
Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung
Belum genap sepuluh hari kita menjalani ibadah puasa Ramadhan, kita dikejutkan oleh berbagai musibah, seperti banjir dan kebakaran, yang menimpa saudara-saudara kita di beberapa kota besar, termasuk di provinsi Lampung yang kita cintai. Sebagai sesama Muslim dan anak bangsa, kita turut berduka. Semoga mereka yang terdampak diberi ketabahan dan kesabaran.
Agar ibadah puasa Ramadhan memberikan hasil yang optimal, ada nilai tarbiyah (pendidikan) yang perlu kita hayati dan amalkan, salah satunya adalah membersihkan jiwa.
Membersihkan Jiwa
Keadaan jiwa seseorang menentukan sikap dan perilakunya. Jika jiwanya bersih, maka sikap dan perilakunya pun baik. Sebaliknya, jiwa yang kotor cenderung melahirkan perilaku yang tidak baik. Puasa melatih kita untuk memiliki jiwa yang bersih.
Jiwa yang bersih senang dengan kejujuran, takut kepada Allah, selalu mendambakan kesucian, serta berusaha membersihkan diri dari dosa-dosa. Jiwa yang bersih juga membentuk kedisiplinan dalam hidup. Oleh karena itu, puasa seharusnya melahirkan kedisiplinan dan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.
Kebersihan jiwa dan kesucian hati adalah bentuk penghayatan serta pengamalan agama yang lebih intens. Selama berpuasa, kita menjalani 24 jam dalam suasana religius, menikmati kekhusyukan, dan membiarkan ruhani kita mengekspresikan dirinya secara lebih bebas. Bulan Ramadhan adalah bulan spiritual, di mana kita mempersempit ruang bagi jasmani dan memperbanyak amalan ibadah seperti shalat tarawih serta tadarus Al-Qur’an.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa puasa adalah sarana untuk menjauhkan diri dari kejahatan dan mendekatkan diri kepada ketakwaan. Allah juga berfirman:
“Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8)
Ayat ini mengingatkan bahwa dalam diri manusia selalu ada dua dorongan: kejahatan dan ketakwaan. Puasa mengajarkan kita bagaimana mengendalikan dorongan kejahatan dan memperkuat ketakwaan.
Menjaga Hati
Hati adalah pusat kesadaran spiritual manusia. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim)
Puasa adalah upaya untuk membenahi diri dari dalam, memperbaiki hati yang tersembunyi dalam jasmani kita. Iman harus berakar kuat dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal perbuatan. Rasulullah SAW bersabda:
“Iman itu tertambat dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan.”
Antara hati, ucapan, dan perbuatan harus selaras. Apa yang kita yakini harus tercermin dalam tindakan kita.
Hikmah dari Kehidupan Ikan di Laut
Sebagai penutup, marilah kita mengambil hikmah dari kehidupan ikan di lautan. Meskipun hidup di air asin, daging ikan tetap.






