Melihat Dampak di Sepanjang Aliran Sungai Batang Hari Akibat Tongkang Batu Bara

- Editor

Selasa, 30 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jambi, kabarindonesia.co

Melihat begitu banyaknya jumlah kapal-kapal tongkang pengangkut batubara yang melintas melalui jalur sungai batanghari yang hingga kini masih di ragukan perihal perizinan nya, Tim investigasi yang terdiri dari Lembaga Non Pemerintah (NGOs) seperti PH dan Walhi Jambi mengunjungi Desa yang berada di Muaro Jambi yaitu Desa Sarang Burung, Tim penasaran dan meminta keterangan dari masyarakat yang bermukim di pinggiran Sungai Batanghari ini, mereka rata-rata berkerja sebagai buruh harian di pabrik triplek, serta sebagai pekerja di lokasi keramba ikan, salah satu warga mengatakan tidak kurang dari 40 hingga 50 unit kapal-kapal tongkang ini lalu-lalang dalam satu hari.

Kabarindonesia.co, Aktivitas ini bagai tak mengenal siang ataupun malam, suara mesin yang bising dan mengganggu pendengaran, hingga debu batubara yang menjadi makanan sehari-hari oleh paru-paru masyarakat pinggiran sungai, jelas mereka sangat terganggu dengan kondisi yang carut-marut ini.

Terlebih ancaman terhadap petani keramba, bukan sekali mereka mengalami musibah akibat aktivitas ini, merosotnya penghasilan berupa banyaknya ikan-ikan yang mati, hingga kerugian seperti hancurnya keramba mereka, jelas aktivitas ini merupakan pengaruh buruk terhadap kestabilan mata pencaharian masyarakat petani keramba, serta dampak dari gelombang ombak yang dihasilkan oleh aktivitas angkutan tersebut, sementara usaha keramba ikan ini merupakan sumber penghasilan utama, banyak dari mereka yang hanya menjadi buruh pakan disana, keramba ini yang dipanen 5 bulan 1 kali, namun semenjak adanya aktivitas angkutan batubara melalui sungai ini, pendapatan mereka jauh menurun.

Media yg turut serta bersama tim investigasi melakukan beberapa wawancara bersama petani keramba “Pakan ikan juga di peroleh dengan cara berhutang pada toko yang menyediakan pakan nya, sudah jatuh tertimpa tangga, bukan tangga biasa, tapi tangga beton, begitulah kondisi nya akhir-akhir ini” ujar Noval kepada kabarindonesia.co.

Baca Juga :  Kaum Muda Desa Marga Agung, Lampung Selatan Adakan Lomba Layang-Layang

“Hingga kini, aktivitas angkutan batubara tersebut samasekali tidak memberikan dampak positif bagi kami masyarakat pinggiran sungai, bahwa tidak ada manfaatnya batubara ini bagi kami masyarakat pinggiran sungai, sementara kamilah yang paling banyak dirugikan dalam kondisi ini, mereka menyebut bahwa ini adalah musibah baru untuk masyarakat pinggiran Sungai Batanghari, terutama kami masyarakat yang hingga saat ini masih menggantungkan sumber hidup dan penghidupan dari Sungai Batanghari ini” sambut peri menambahkan.

Sementara Eko dari walhi mengungkap, “Bayangkan sumur galian yang ada di sekitaran sungai ini sudah tidak layak untuk dikonsumsi, dengan kata lain sudah sangat tercemar, air sumur masyarakat disana mengandung bermacam zat, airnya jernih namun lengket, adanya gelembung- gelembung serta kandungan minyak di air tersebut, yang kami simpulkan jelas ini sangat berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia, jika dipakai untuk mandi saja mereka sudah mengalami gatal-gatal, apalagi untuk dikonsumsi, air sumur tersebut akan meninggalkan bekas seperti karatan berwarna kuning saat kita menyentuh air tersebut, di pinggiran Sungai Batanghari ini memang sangat banyak pipa-pipa pembuangan limbah industri yang langsung mengarah ke Sungai Batanghari, terutama limbah pabrik, bekas penambangan emas, pasir dan limbah rumah tangga” ujarnya

Dodik menambahkan, “Masyarakat di Desa Sarang Burung, mengalami penurunan kualitas hidup yang sangat signifikan, banyaknya jumlah masyarakat yang menderita penyakit kulit, kemiskinan ekstrim, kurang gizi atau stunting serta mengalami kelainan genetik atau cacat fisik maupun saraf, gangguan serius terhadap kesehatan, dilihat secara fisik maupun psikis mereka yang sudah sangat mengkhawatirkan” ujarnya

Hal tersebut di tegaskan oleh tole dari tim investigasi dari PH, “kami menduga bahwa persoalan ini terjadi akibat menurunnya standar hidup dan pola hidup masyarakat pinggiran sungai, faktor utama nya ialah begitu banyaknya aktivitas industri, tambang, hingga lalu-lalang kapal tongkang pengangkut batubara yang terus beroperasi, jelas aktivitas ini berkontribusi besar dalam merusak dan menghancurkan hak warga negara Indonesia khususnya masyarakat Jambi untuk mendapatkan lingkungan hidup yang sehat, kita lihat dari jumlah penyakit yang diderita masyarakat pinggiran sungai, hingga saat ini masih masih mengkhawatirkan dan belum ada tindakan serius dari para pelaku tambang, pemerintah dan pihak berwajib dalam menanggulangi dampak negatif yang muncul” ujarnya kepada kabarindonesia.co

Baca Juga :  Bedah Rumah Warga Program TMMD, Sudah Masuki Tahap 80%

Sungai merupakan sasaran empuk bagi perusahaan yang membuang limbah-limbah beracun ke sungai batanghari, lingkungan hidup yang tidak sehat selalu menimbulkan dampak buruk terhadap perkembangan makhluk hidup yang ada di sekitarnya.

Harapan masyarakat pinggiran Sungai Batanghari

1. Meminta agar mereka dapat diperhatikan, terutama anak-anak mereka yang harusnya mendapatkan hak untuk mengenyam lingkungan hidup yang sehat dan bersih, mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk menjamin mereka mampu mengenyam bangku pendidikan serta jaminan kesehatan

2. Meminta agar aktivitas angkutan batubara ini diberhentikan, karena tidak memberikan dampak positif bagi masyarakat, hanya sekedar menjadi tontonan, dan ancaman bagi pengusaha keramba ikan yang menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut

3. Kegiatan ini menimbulkan kecemasan bagi masyarakat, seperti hal yang sama seperti beberapa waktu lalu, bahwa tongkang pengangkut batubara ini menabrak keramba ikan masyarakat desa kami, sejak saat itu, kami harus tetap waspada dan was-was karena begitu banyaknya kemungkinan akan terjadi hal serupa

4. Kami berharap sesuatu yang diambil dari bumi jambi, juga harus dapat di nikmati oleh masyarakat Jambi itu sendiri, tidak hanya jadi pemenonton dan mendapatkan kehancuran nya saja, kami masyarakat pinggiran sungai sudah sangat menderita karena susahnya mencari pekerjaan, jangan ditambah lagi dengan masalah baru.

SA79

Berita Terkait

Jajaran Lapas Kotaagung Berikan Penguatan Tata Tertib kepada Warga Binaan: Wujudkan Lingkungan Aman dan Kondusif
Dinas Pendidikan Jadi Sarang Penyamun berkedok Tenaga Ahli Bupati Tanggamus
Pasca Viral, Dugaan Penyalahgunaan Dana BOS di SDN 1 Negri Ngarip Diperkuat Fakta Kondisi Sekolah yang Memburuk
PMI Lampung Barat Siagakan 20 Personel dan Ambulans untuk Operasi Lilin Krakatau 2025 Empat Pos Strategis Disiapkan untuk Pengamanan Natal dan Tahun Baru
Wabup Mad Hasnurin: Tutup Batu Harus Hati-hati, Jangan Sampai Balak Enamnya Mati
PMR SMAN 1 Sumber Jaya dan SMKN 1 Way Tenong Galang Donasi untuk Korban Banjir dan Longsor
PMR SMAN SEKINCAU GELAR AKSI KEMANUSIAAN UNTUK KORBAN BENCANA ACEH, SUMUT, DAN SUMBAR
Nukman Optimis Panorama Negeri di Atas Awan Akan Mampu Hipnotis Gubernur Lampung
Berita ini 145 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 18:44 WIB

Jajaran Lapas Kotaagung Berikan Penguatan Tata Tertib kepada Warga Binaan: Wujudkan Lingkungan Aman dan Kondusif

Rabu, 29 April 2026 - 15:27 WIB

Dinas Pendidikan Jadi Sarang Penyamun berkedok Tenaga Ahli Bupati Tanggamus

Jumat, 17 April 2026 - 14:52 WIB

Pasca Viral, Dugaan Penyalahgunaan Dana BOS di SDN 1 Negri Ngarip Diperkuat Fakta Kondisi Sekolah yang Memburuk

Rabu, 17 Desember 2025 - 16:37 WIB

PMI Lampung Barat Siagakan 20 Personel dan Ambulans untuk Operasi Lilin Krakatau 2025 Empat Pos Strategis Disiapkan untuk Pengamanan Natal dan Tahun Baru

Rabu, 17 Desember 2025 - 16:35 WIB

Wabup Mad Hasnurin: Tutup Batu Harus Hati-hati, Jangan Sampai Balak Enamnya Mati

Jumat, 12 Desember 2025 - 07:05 WIB

PMR SMAN SEKINCAU GELAR AKSI KEMANUSIAAN UNTUK KORBAN BENCANA ACEH, SUMUT, DAN SUMBAR

Kamis, 11 Desember 2025 - 22:28 WIB

Nukman Optimis Panorama Negeri di Atas Awan Akan Mampu Hipnotis Gubernur Lampung

Senin, 8 Desember 2025 - 08:12 WIB

PMR Kecamatan Kebun Tebu Galang Dana untuk Korban Banjir dan Longsor di Aceh, Medan, dan Padang

Berita Terbaru

Maaf !!! Tidak Dapat Disalin